Minggu, 13 Juli 2014

UAS KIMIA ORGANIK II



            NAMA            : NADIA NOVITA PUTRI
            NIM                : A1C112013
            KELAS           : PENDIDIKAN REGULER 2012
1.      Jelaskan kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap 3 pada minyak atau lemak tak jenuh
Jawaban :
Asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya . asam lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.contohya adalah pada CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H ( asam linoleat ).
Seperti halnya ikatan rangkap dua pada senyawa hidrokarbon,sangat tidak mungkin rasanya bila pembentukan ikatan rangkap tiga dari senyawa ini bisa terjadi secara lansung.Tapi kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga ini,bisa dijalankan dengan mekanisme dua tahap reaksi.Yang pertama adalah reaksi halogenasi pada ikatan rangkap.Dan reaksi kedua adalah reaksi dehidrogenasi.Dengan berasumsi bahwa ikatan rangkap pada lemak tak jenuh sama dengan ikatan rangkap pada alkena.
Reaksi halogenasi
Reaksi adisi oleh halogen disebut sebagai reaksi halogenasi. Jika halogennya berupa klorin (Cl2) disebut klorinasi, jika halogennya bromin (Br,) disebut reaksi brominasi.
Reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut.


Adapun contoh yang dapat dilihat adalah reaksi brominasi etena yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Atau contoh lain nya adalah sbb :
CH3 – CH2 – CH = CH2 + HBr —>CH3–CH2–CH2-CH2 Br
           
Reaksi dehidrogenasi
Setelah ikatan rangkap 2 diadisi menjadi ikatan tunggal,barulah kemudian reaksi dehidrogenasi dapat dijalankan pada senyawa dihalida yang dipengaruhi oleh basa kuat yang akan menghasilkan ikatan rangkap tiga.Contoh :

CH3-CH2-CHBr-CHBr-CH3 + KOH → CH3-CH2-C≡C-CH3 + 2 KBr + 2 H2O

            Atas dasar asumsi inilah,menurut saya ada kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga dari ikatan rangkap dua asam lemak tak jenuh seperti pada halogenasi dan dehidrogenasi yang terjadi pada senyawa hidrokarbon.
2.      Jelaskan bagaimana proses pencucian dengan pelarut organik bebas air
Jawaban :
Deterjen berhubungan dengan pembersihan benda padat. Pembersihan benda padat adalah penyingkiran benda yang tak diinginkan dari permukaannya. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain pemisahan mekanik sederhana (misalnya mengucek dan mencelupkan kain ke air), pemisahan dengan pelarut (misalnya penambahan pelarut organik), dan pemisahan dengan menambahkan air dan bahan kimia seperti surfaktan.
Sistem pencucian dengan deterjen terdiri dari benda padat yang akan dibersihkan, yang disebut substrat, pengotor yang akan dibersihkan melalui proses pencucian, dan liquid bath (cairan yang mengandung air dan surfaktan untuk membersihkan). Hasil pencucian akan bergantung pada interaksi elemen-elemen tersebut dan kondisi pencucian yang digunakan, seperti temperatur, waktu, energi mekanik yang diberikan, dan kesadahan air yang digunakan.
Deterjen dan sabun digunakan sebagai pembersih karena air murni tidak dapat menghapus atau menghilangkan kotoran pakaian/barang yang berminyak, atau terkena pengotor organik lainnya. Sabun membersihkan dengan bertindak sebagai emulsi. Pada dasarnya, sabun memungkinkan minyak dan air untuk bercampur sehingga kotoran berminyak dapat dihilangkan selama pencucian.
Molekul surfaktan memiliki bagian polar (hidrofilik) yang larut dalam air dan bagian nonpolar (hidrofobik) molekul surfaktan dapat berupa gugus ionik bermuatan positif atau negatif, atau gugusbersifat polar non-ionik yang bermuatan netral.
Mekanisme deterjen dalam membersihkan kotoran penginduksian bagian polar dari sabun/detergen oleh air.Bagian non polar dari surfaktan akan menyerang bagian non polar dari kotoran yang berupa minyak/lemak.Dan bagian polar dari kotoran tersebut akan diserang oleh bagian polar dari surfaktan.Sementara pelarut (air maupun pelarut organik lainnya) menjadi media untuk melarutkan dan mengangkat kotoran.
Dalam proses pencucian,pelarut yang universal digunakan adalah air. Pelarut yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik.Air digunakan sebagai pelarut karena berkaitan dengan konstanta dielektriknya yang tinggi.Alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan air sebagai pelarut adalah asam asetat glasial. Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan etanol. Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2, sehingga ia bisa melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan gula maupun senyawa non-polar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan iodin. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar lainnya seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri kimia.
Untuk menghilangkan kadar air yang terdapat dalam asam asetat glasial yaitu sekitar 0.1 – 1 %,maka kedalam asam astetat glasial ditambahkan asam asetat anhidrida.
3.      Bagaimana cara bekerja indra pengecap sehingga menimbulkan cita rasa manis contoh fruktosa
Jawaban :
Seperti halnya indera yang lain, pengecapan merupakan hasil stimulasi ujung saraf tertentu. Dalam hal mampu membedakan kelezatan makanan tersebut karena ada stimulasi kimiawi. Pada manusia, ujung saraf pengecap berlokasi dikuncup-kuncup pengecap pada lidah.
K uncup-kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di bagian depan hingga ke belakang. Di dalam satu papila terdapat banyak kuncup pengecap (taste bud) yaitu suatu bangunan berbentuk bundar  yang terdiri dari 2 jenis sel, yaitu sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap sebagai reseptor. Setiap sel pengecap memiliki tonjolan-tonjolan seperti rambut yang menonjol keluar taste bud melalui taste pore(lubang). Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam cairan ludah akan mengadakan kontak dan merangsang sel-sel kemudian timbul lah impuls yang akan menjalar ke syaraf no VII dan syaraf IX otak untuk diteruskan ke thalamus dan sberakhir di daerah pengecap primer di lobus parietalis untuk kemudian di interpretasikan. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup pengecap melalui pori-pori bagian atas. Di dalam makanan akan merangsangujung saraf yang mempunyai rambut (Gustatory hair). Dari ujung tersebut pesanakan dibawa ke otak, kemudian diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang  masuk ke dalam mulut kita. Banyak sekali jenis makanan dan minuman yang ada di sekitar kita. Rasa makanan dan minuman itu bermacam-macam, ada yang manis, asin, asam, bahkan ada pula yang pahit.
Kita dapat merasakan rasa manis, asin, asam, dan pahit menggunakan lidah. Rasa yang dikenal lidah terdiri atas 4 rasa. Berikut merupakan tinjauan sensasi rasa dilihat dari zat-zat kimia penimbul sensasi rasa.
·         Pahit, ditimbulkan oleh alkaloid tumbuhan. Alkaloid ialah zat-zat organik yang aktif dalam  kegiatan fisiologis yang terdapat dalam tumbuhan.Contohnya  ialah kina, cafein,  nikotin,  morfin dan lain-lain. Banyak dari zat-zat ini bersifat racun.
·         Asin, ditimbulkan oleh kation Na+, K + dan Ca+3.
·         Manis, ditimbulkan oleh gugus OH- dalam molekul organik. Gugus ini terdapat pada gula, keton dan asam amino tertentu.4.Seperti gugus OH- pada monosakarida fruktosa.
·         Asam, ditimbulkan oleh ion H+
                K uncup pengecap untuk masing-masing indra tersebut terletak di daerah yang berbeda-beda pada lidah kita. Untuk citarasa manis berada di bagian ujung lidah, juga untuk rasa asin.
Secara garis besar, proses pengecapan rasa berlangsung melalui 3 tahap, yaitu: resepsi, tranduksi sinyal dan respon. Tahap resepsi merupakan tahap pengenalan sinyal yang memiliki rasa tertentu (tastan) oleh suatu reseptor. Tranduksi sinyal meliputi reaksi bertahap dalam sel akibat adanya sinyal rasa. Respon merupakan respon akhir sel-sel pengecap yang mengirimkan sinyal tersebut menuju sistem saraf.
Tahap resepsi menentukan jenis rasa dari suatu zat. Suatu zat yang memiliki rasa tertentu akan mampu berikatan dengan molekul-molekul reseptor yang terdapat di lidah.  Sebagai contoh, konsumsi sukrosa akan menyebabkan sukrosa terikat oleh reseptor rasa manis yang terdapat di lidah.
Reseptor untuk rasa manis dan gurih pada sel pengecap berupa protein dari famili G protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R.  Ada 3 gen dalam famili T1R. Dua gen yang pertama, yaitu T1R1 dan T1R2 telah diidentifikasi pada tahun 1999 dengan menganalisis urutan cDNA dari jaringan taste tikus. Gen ketiga, yaitu T1R3 yang diidentifikasi pada tahun 2001 yang terdapat pada genom manusia. Dalam melaksanakan kerjanya, T1R diekspresikan secara berpasangan. Reseptor heteromerik T1R2/T1R3 merupakan reseptor untuk rasa manis. Reseptor ini dapat secara selektif dapat merespon 20 pemanis yang diujikan pada konsentrasi fisiologis yang relevan. Reseptor T1R1/T1R3 pada berbagai sel memiliki suatu korelatif terhadap rasa gurih. Reseptor heteromerik tersebut dapat mengenali glutamat pada konsentrasi efektifnya. Reseptor tersebut hanya merespon glutamat, aspartat, dan L-2-amino-4-fosfonobutirat. Berbeda halnya dengan reseptor T1R1/T1R3 tikus yang dapat mengenali semua asam L-amino. Saat ini berbagai senyawa sintetik yang berbeda telah diketahui dapat dikenali oleh reseptor T1R1/T1R3 dan T1R2/T1R3.
Reseptor T1R merupakan suatu protein transmembran yang memiliki dua domain. Domain pertama terdapat di luar sel yang berfungsi untuk mengikat tastan yang sesuai. Domain kedua merupakan domain transmembran yang melakukan kopling dengan protein G yang berfungsi dalam tranduksi sinyal.
Proses tranduksi sinyal pada sistem rasa melalui G protein dan second messenger berupa fosfolipase C.  Pengikatan tastan pada reseptor menyebabkan perubahan konformasi pada domain transmembran reseptor. Perubahan konformasi tersebut mempengaruhi interaksi reseptor dengan protein G stimulatori (Gs). Reseptor T1R3 biasanya terikat pada subunit G(alpha) 14 atau subunit G(alpha) lainnya. Subunit G(alpha) terikat pada subunit G(beta, gamma), seperti subunit G(gamma) 13 dan G(beta1) atau G(beta3). Perubahan konformasi domain transmembran reseptor menyebabkan subunit G(beta, gamma) terlepas dan bergerak sepanjang membran sel.  G(beta, gamma) yang terlepas akan beriteraksi dengan enzim fosfolipase C (PLC) b2. PLCb2 merupakan isoform enzim PLC yang unik karena teraktivasi oleh subunit G(beta, gamma), sedangkan isoform PLC pada umumnya teraktivasi oleh subunit G(alpha). Interaksi antara subunit G(beta, gamma) dengan PLCb2 mengaktifkan aktivitas enzim tersebut. Enzim PLC dapat menghidrolisis fosfatidilinositol 4,5-bisfosfat menghasilkan inositol trisfosfat (IP3) and diasilgliserol.
Salah satu produk hidrolisis tersebut adalah IP3. IP3 merupakan senyawa larut dalam air, yang akan berdifusi dari membran plasma menuju sitosol dan akhirnya menuju retikulum endoplasma (Nelson dan Cox, 2004). Pada permukaan retikulum endoplasma terdapat rseptor spesifik untuk IP3, yaitu: IP3R. Reseptor IP3R tersebut merupakan suatu ion channel yang akan terbuka apabila terikat dengan IP3. Pengikatan tersebut membuka channel ion, sehingga ion Ca2+ yang terdapat dalam retikulum endoplasma berdifusi menuju sitosol. Konsentrasi ion Ca2+ yang terdapat di sitosol meningkat drastis dari konsentrasi kurang dari 10-7 M menjadi sekitar 10-6. Peningkatan kandungan ion Ca2+  intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal dalam sel-sel pengecap. Pertama, pembukaan kanal kation selektif pengecapan (TPRM5) di membran plasma. Kedua, pembukaan gap junction hemichannel.
Peningkatan kadar Ca2+ intraseluler menyebabkan kanal ion TPRM5 menjadi terbuka. Ion Na+ yang konsentrasi di luar sel lebih tinggi dibanding intraseluler akan berdifusi masuk melalui kanal ion TPRM5 tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya depolarisasi tegangan potensial membran sel. Depolarisasi tersebut dan adanya peningkatan kadar ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terbukanya gap junction hemichannel. Terbukanya hemichannel tersebut menyebabkan berbagai molekul seperti  transmitter taste bud, ATP dan molekul-molekul lain mengalami difusi keluar sel.
Aktivasi TPRM5 dapat ditingkatkan dengan meningkatkan temperatur. Pada temperatur yang lebih tinggi, meningkatnya aktivitas TPRM5 dapat meningkatkan intensitas rasa manis yang dapat dikecap oleh lidah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa es krim yang mengandung kadar gula yang sama dengan teh hangat akan terasa kurang manis (Ishimaru and Matsunami, 2009).
Begitulah suatu proses pengecapan rasa berlangsung di dalam tubuh manusia. Proses ini sangat rumit/kompleks, teratur dan berlangsung dalam sel yang berukuran amat sangat kecil. Setiap kerja yang dilakukan suatu bagian sel langsung berakibat terhadap bagian sel yang lain. Bayangkan, apabila satu saja dari sistem pengecapan tersebut ada yang rusak, tentunya manusia akan hidup di dunia yang serba tawar. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur kepada Sang Khaliq yang sudah menciptakan proses luar biasa.
4.      Jelaskan hubungan hormon oksitosin dengan sinyal gelombang alpa dan teta yg di keluarkan otak
Jawaban :
Gelombang listrik yang dihasilkan otak bersifat fluktuatif, biasa disebut dengan brainwave. Dikatakan fluktuatif karena pada satu waktu otak manusia mampu menghasilkan beberapa jenis gelombang secara bersamaan. Jenis-jenis gelombang otak yang dihasilkan menunjukkan perbedaan aktivitas atau keadaan seseorang.
·         Gelombang Alfa
Gelombang alfa memiliki frekuensi gelombang yang lebih lambat dibandingkan beta, yaitu 8-12 Hz. Pada kondisi alfa berarti seseorang berada pada kondisi santai atau rileks. Pada kondisi ini pula seseorang bisa lebih dapat merasakan sensasi dengan lima indera dan apa yang terjadi atau dilihat dalam pikirannya. Kondisi alfa ini dikenal juga sebagai “gerbang” bawah sadar. Karena ia menjadi penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Gelombang alfa biasa juga dihasilkan ketika seseorang bermeditasi ringan.
·         Gelombang Theta
Gelombang theta mempunyai frekuensi gelombang sebesar 4-8 Hz. Gelombang ini dihasilkan oleh pikiran bawah sadar. Gelombang theta muncul ketika seseorang dalam keadaan tidur ringan, saat terjadi episode tidur REM, atau sangat mengantuk. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kita bisa saja memunculkan kondisi pada kondisi theta dengan cara bermeditasi hingga tahap yang sangat dalam. Semua pengalaman meditatif dapat dirasakan pada kondisi theta, misalnya keheningan, ketenangan, kedalaman, dan puncak kebahagiaan.
Gelombang theta ini juga diduga berhubungan dengan mekanisme pelepasan stres dan proses mengingat kembali. Dalam keadaan ini diibaratkan otak sedang mereplay semua aktivitas yang dilakukan seharian penuh, menata ulang ingatan sekaligus menempatkannya ke gudang penyimpanan. Karena itulah dikatakan bahwa tidur adalah satu langkah penting yang dianjurkan sebagai rangkaian proses mengingat yang lebih baik.
Kedua gelombang ini adalah gelombang yang memiliki resonansi paling kuat. Lontaran gelombang otak Alpha dan Tetha dari pikiran kita lah yg akan menyebar ke luar, sehingga menggerakkan orang lain melakukan hal yg kita harapkan.
Alfa-Theta, membuat tenang, bahagia dan kreatif. Kemampuan untuk secara temporer mengubah kesadaran diri satu frekuensi ke frekuensi yang lain adalah keterampilan yang sangat penting, karena efeknya akan membantu menyeimbangkan otak, hati, dan jiwa. Keterampilan itu membuat seseorang menjadi pandai membaca situasi dan pandai menempatkan diri dalam suasana apapun sehingga seolah-olah selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat
Oksitosin, sang hormon cinta, yang disekresikan selama aktivitas seksual, orgasme pria dan wanita, kelahiran, dan menyusui. Oksitosin menimbulkan perasaan cinta. Seperti yang dikatakan oleh Michael Odent, “Apapun bentuk cinta itu, oksitosin pasti terlibat mempengaruhinya.”
Oksitosin disekresi dalam jumlah besar saat hamil, berfungsi untuk meningkatkan penyerapan nutrisi, mengurangi stres, dan menghemat energi dengan membuat ibu hamil lebih mudah  mengantuk.  Oksitosin juga menyebabkan rahim berkontraksi berirama. Kadar hormon oksitosin mencapai puncaknya saat persalinan dengan adanya stimulasi dari reseptor vagina akibat adanya peregangan saat bayi melewati vagina. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon ini menurun secara bertahap.
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa gelombang Alpha-theta adalah gelombang otak yang berkaitan dengan pelepasan stress. Bayi juga mengalami peningkatan produksi oksitosin selama proses persalinan. Jadi, dalam menit pertama setelah persalinan, ibu dan bayi  bermandikan  hormon cinta. Produksi oksitosin kemudian dilanjutkan produksinya melalui kontak  kulit ke kulit dan kontak mata dengan mata, serta saat bayi pertama kali menyusu. Oksitosin akan mencegah terjadinya perdarahan pasca melahirkan dengan dengan memastikan kontraksi rahim yang baik..
Saat proses menyusui, oksitosin memediasi let-down reflex dan dilepaskan secara bergelombang. Selama masa menyusui, oksitosin terus bertindak untuk menjaga ibu tetap santai dan bergizi baik. Profesor Kerstin Uvnas Moberg, seorang pakar oksitosin dan peneliti  menyebutnya sebagai “… sistem anti-stres yang sangat efisien, yang mencegah banyak penyakit di kemudian hari.” Dalam studinya, para ibu yang menyusui selama lebih dari tujuh minggu itu lebih tenang, ketika mereka bayi yang berusia enam bulan, dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya.
Di luar perannya dalam hal reproduksi, oksitosin disekresi dalam situasi lain, misalnya, berbagi makanan. Para peneliti telah meneliti bahwa akibat dari malfungsi  sistem oksitosin, dapat menyebabkan  skizofrenia,  autisme, penyakit kardiovaskular dan ketergantungan obat. Peneliti-peneliti ini menduga bahwa oksitosin  dapat memediasi efek antidepresan dari obat-obatan seperti Prozac.
Jadi hormon oksitosin adalah hormon yang disebut antistess yang sangat efisien dimana gelombang otak alpha-theta berhubungan dengan pelepasan stress.Itulah mengapa hormon oksitosin dapat mempengaruhi dan memiliki hubungan dengan frekuensi gelombang alpha-theta yang ada dalam otak manusia.
5.      Jelaskan bagaiman sifat basa dapat di hasilkan gugus OH pada sakarida! kaitkan dengan konsep asam basa
Jawaban :
Sifat basa yang dihasilkan gugus OH pada sakrida berkaitan dengan konsep asam basa yang dikemukan oleh bronsted-Lowry.Basa menurut teori ini adalah senyawa yang menerima proton/akseptor proton.
Salah satu contoh disakarida adalah sukrosa yang terdiri dari glukosa dan fruktosa.Dalam srukturnya glukosa memiliki sifat asam karena kemampuannya untuk melepaskan proton (H+) pada C pertama.

Sementara fruktosa pada strukturnya memiliki sifat menarik proton (H+)

Dan ketika dua monosakirada ini bergabung membentuk disakarida yaitu sukrosa maka strukturnya akan menjadi seperti gambar dibawah ini:

Berdasarkan konsep asam dan basa dari bronsted-Lowry sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa basa itu sendiri adalah senyawa yang menerima proton/akseptor proton (H+) atau dengan kata lain basa adalah senyawa yang dapat menarik proton kearahnya.Fruktosa ternyata memliki gugus OH yang dapat menarik H+,sehingga gugus OH ini memilki sifat sebagai basa.Namun tidak semua gugus OH pada fruktosa bersifat basa.C1 pada fruktosa bersifat basa karena dia mampu menarik H+ dari glukosa untuk kemudian membentuk H2O.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar