NAMA : NADIA NOVITA PUTRI
NIM :
A1C112013
KELAS : PENDIDIKAN REGULER 2012
1. Jelaskan
kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap 3 pada minyak atau lemak tak jenuh
Jawaban
:
Asam
lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada
rantai hidrokarbonnya . asam lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak
lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat.
Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.contohya
adalah pada CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H ( asam linoleat ).
Seperti
halnya ikatan rangkap dua pada senyawa hidrokarbon,sangat tidak mungkin rasanya
bila pembentukan ikatan rangkap tiga dari senyawa ini bisa terjadi secara
lansung.Tapi kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga ini,bisa dijalankan
dengan mekanisme dua tahap reaksi.Yang
pertama adalah reaksi halogenasi pada ikatan rangkap.Dan reaksi kedua adalah reaksi dehidrogenasi.Dengan berasumsi bahwa
ikatan rangkap pada lemak tak jenuh sama dengan ikatan rangkap pada alkena.
Reaksi halogenasi
Reaksi
adisi oleh halogen disebut sebagai reaksi halogenasi. Jika halogennya berupa
klorin (Cl2) disebut klorinasi, jika halogennya bromin (Br,) disebut reaksi
brominasi.
Reaksinya
dapat digambarkan sebagai berikut.
Adapun
contoh yang dapat dilihat adalah reaksi brominasi etena yang dapat digambarkan
sebagai berikut :
Atau
contoh lain nya adalah sbb :
CH3
– CH2 – CH = CH2 + HBr —>CH3–CH2–CH2-CH2 Br
Reaksi dehidrogenasi
Setelah
ikatan rangkap 2 diadisi menjadi ikatan tunggal,barulah kemudian reaksi
dehidrogenasi dapat dijalankan pada senyawa dihalida yang dipengaruhi oleh basa
kuat yang akan menghasilkan ikatan rangkap tiga.Contoh :
CH3-CH2-CHBr-CHBr-CH3
+ KOH → CH3-CH2-C≡C-CH3 + 2 KBr + 2 H2O
Atas dasar asumsi inilah,menurut
saya ada kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga dari ikatan rangkap dua
asam lemak tak jenuh seperti pada halogenasi dan dehidrogenasi yang terjadi
pada senyawa hidrokarbon.
2. Jelaskan
bagaimana proses pencucian dengan pelarut organik bebas air
Jawaban
:
Deterjen
berhubungan dengan pembersihan benda padat. Pembersihan benda padat adalah
penyingkiran benda yang tak diinginkan dari permukaannya. Pembersihan ini dapat
dilakukan dengan berbagai metode, antara lain pemisahan mekanik sederhana
(misalnya mengucek dan mencelupkan kain ke air), pemisahan dengan pelarut
(misalnya penambahan pelarut organik), dan pemisahan dengan menambahkan air dan
bahan kimia seperti surfaktan.
Sistem
pencucian dengan deterjen terdiri dari benda padat yang akan dibersihkan, yang
disebut substrat, pengotor yang akan dibersihkan melalui proses pencucian, dan
liquid bath (cairan yang mengandung air dan surfaktan untuk membersihkan).
Hasil pencucian akan bergantung pada interaksi elemen-elemen tersebut dan
kondisi pencucian yang digunakan, seperti temperatur, waktu, energi mekanik
yang diberikan, dan kesadahan air yang digunakan.
Deterjen
dan sabun digunakan sebagai pembersih karena air murni tidak dapat menghapus
atau menghilangkan kotoran pakaian/barang yang berminyak, atau terkena pengotor
organik lainnya. Sabun membersihkan dengan bertindak sebagai emulsi. Pada
dasarnya, sabun memungkinkan minyak dan air untuk bercampur sehingga kotoran
berminyak dapat dihilangkan selama pencucian.
Molekul
surfaktan memiliki bagian polar (hidrofilik) yang larut dalam air dan bagian
nonpolar (hidrofobik) molekul surfaktan dapat berupa gugus ionik bermuatan
positif atau negatif, atau gugusbersifat polar non-ionik yang bermuatan netral.
Mekanisme
deterjen dalam membersihkan kotoran penginduksian bagian polar dari
sabun/detergen oleh air.Bagian non polar dari surfaktan akan menyerang bagian
non polar dari kotoran yang berupa minyak/lemak.Dan bagian polar dari kotoran
tersebut akan diserang oleh bagian polar dari surfaktan.Sementara pelarut (air
maupun pelarut organik lainnya) menjadi media untuk melarutkan dan mengangkat
kotoran.
Dalam
proses pencucian,pelarut yang universal digunakan adalah air. Pelarut
yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain
yang juga umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang
juga disebut pelarut organik.Air digunakan sebagai pelarut karena berkaitan
dengan konstanta dielektriknya yang tinggi.Alternatif yang dapat digunakan
untuk menggantikan air sebagai pelarut adalah asam asetat glasial. Asam
asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan
etanol. Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2,
sehingga ia bisa melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan gula
maupun senyawa non-polar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan
iodin. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar
lainnya seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan
bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri
kimia.
Untuk
menghilangkan kadar air yang terdapat dalam asam asetat glasial yaitu sekitar
0.1 – 1 %,maka kedalam asam astetat glasial ditambahkan asam asetat anhidrida.
3. Bagaimana
cara bekerja indra pengecap sehingga menimbulkan cita rasa manis contoh
fruktosa
Jawaban
:
Seperti
halnya indera yang lain, pengecapan merupakan hasil stimulasi ujung saraf
tertentu. Dalam hal mampu membedakan kelezatan makanan tersebut karena ada
stimulasi kimiawi. Pada manusia, ujung saraf pengecap berlokasi dikuncup-kuncup
pengecap pada lidah.
K
uncup-kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di
bagian depan hingga ke belakang. Di dalam satu papila terdapat banyak kuncup
pengecap (taste bud) yaitu suatu bangunan berbentuk bundar yang terdiri dari 2 jenis sel, yaitu sel-sel
penyokong dan sel-sel pengecap sebagai reseptor. Setiap sel pengecap memiliki
tonjolan-tonjolan seperti rambut yang menonjol keluar taste bud melalui taste
pore(lubang). Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam cairan ludah
akan mengadakan kontak dan merangsang sel-sel kemudian timbul lah impuls yang
akan menjalar ke syaraf no VII dan syaraf IX otak untuk diteruskan ke thalamus
dan sberakhir di daerah pengecap primer di lobus parietalis untuk kemudian di
interpretasikan. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup
pengecap melalui pori-pori bagian atas. Di dalam makanan akan merangsangujung
saraf yang mempunyai rambut (Gustatory hair). Dari ujung tersebut pesanakan
dibawa ke otak, kemudian diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat
mengecap makanan yang masuk ke dalam
mulut kita. Banyak sekali jenis makanan dan minuman yang ada di sekitar kita.
Rasa makanan dan minuman itu bermacam-macam, ada yang manis, asin, asam, bahkan
ada pula yang pahit.
Kita
dapat merasakan rasa manis, asin, asam, dan pahit menggunakan lidah. Rasa yang
dikenal lidah terdiri atas 4 rasa. Berikut merupakan tinjauan sensasi rasa
dilihat dari zat-zat kimia penimbul sensasi rasa.
·
Pahit, ditimbulkan oleh alkaloid
tumbuhan. Alkaloid ialah zat-zat organik yang aktif dalam kegiatan fisiologis yang terdapat dalam
tumbuhan.Contohnya ialah kina,
cafein, nikotin, morfin dan lain-lain. Banyak dari zat-zat ini
bersifat racun.
·
Asin, ditimbulkan oleh kation Na+, K +
dan Ca+3.
·
Manis,
ditimbulkan oleh gugus OH- dalam molekul organik. Gugus ini terdapat pada gula,
keton dan asam amino tertentu.4.Seperti gugus OH- pada monosakarida fruktosa.
·
Asam, ditimbulkan oleh ion H+
K uncup pengecap untuk
masing-masing indra tersebut terletak di daerah yang berbeda-beda pada lidah
kita. Untuk citarasa manis berada di bagian ujung lidah, juga untuk rasa asin.
Secara
garis besar, proses pengecapan rasa berlangsung melalui 3 tahap, yaitu:
resepsi, tranduksi sinyal dan respon. Tahap resepsi merupakan tahap pengenalan
sinyal yang memiliki rasa tertentu (tastan) oleh suatu reseptor. Tranduksi
sinyal meliputi reaksi bertahap dalam sel akibat adanya sinyal rasa. Respon
merupakan respon akhir sel-sel pengecap yang mengirimkan sinyal tersebut menuju
sistem saraf.
Tahap
resepsi menentukan jenis rasa dari suatu zat. Suatu zat yang memiliki rasa
tertentu akan mampu berikatan dengan molekul-molekul reseptor yang terdapat di
lidah. Sebagai contoh, konsumsi sukrosa
akan menyebabkan sukrosa terikat oleh reseptor rasa manis yang terdapat di
lidah.
Reseptor
untuk rasa manis dan gurih pada sel pengecap berupa protein dari famili G
protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R. Ada 3 gen dalam famili T1R. Dua gen yang
pertama, yaitu T1R1 dan T1R2 telah diidentifikasi pada tahun 1999 dengan
menganalisis urutan cDNA dari jaringan taste tikus. Gen ketiga, yaitu T1R3 yang
diidentifikasi pada tahun 2001 yang terdapat pada genom manusia. Dalam
melaksanakan kerjanya, T1R diekspresikan secara berpasangan. Reseptor
heteromerik T1R2/T1R3 merupakan reseptor untuk rasa manis. Reseptor ini dapat
secara selektif dapat merespon 20 pemanis yang diujikan pada konsentrasi
fisiologis yang relevan. Reseptor T1R1/T1R3 pada berbagai sel memiliki suatu
korelatif terhadap rasa gurih. Reseptor heteromerik tersebut dapat mengenali
glutamat pada konsentrasi efektifnya. Reseptor tersebut hanya merespon
glutamat, aspartat, dan L-2-amino-4-fosfonobutirat. Berbeda halnya dengan
reseptor T1R1/T1R3 tikus yang dapat mengenali semua asam L-amino. Saat ini
berbagai senyawa sintetik yang berbeda telah diketahui dapat dikenali oleh
reseptor T1R1/T1R3 dan T1R2/T1R3.
Reseptor
T1R merupakan suatu protein transmembran yang memiliki dua domain. Domain
pertama terdapat di luar sel yang berfungsi untuk mengikat tastan yang sesuai. Domain
kedua merupakan domain transmembran yang melakukan kopling dengan protein G
yang berfungsi dalam tranduksi sinyal.
Proses
tranduksi sinyal pada sistem rasa melalui G protein dan second messenger berupa
fosfolipase C. Pengikatan tastan pada
reseptor menyebabkan perubahan konformasi pada domain transmembran reseptor.
Perubahan konformasi tersebut mempengaruhi interaksi reseptor dengan protein G
stimulatori (Gs). Reseptor T1R3 biasanya terikat pada subunit G(alpha) 14 atau
subunit G(alpha) lainnya. Subunit G(alpha) terikat pada subunit G(beta, gamma),
seperti subunit G(gamma) 13 dan G(beta1) atau G(beta3). Perubahan konformasi
domain transmembran reseptor menyebabkan subunit G(beta, gamma) terlepas dan
bergerak sepanjang membran sel. G(beta,
gamma) yang terlepas akan beriteraksi dengan enzim fosfolipase C (PLC) b2.
PLCb2 merupakan isoform enzim PLC yang unik karena teraktivasi oleh subunit
G(beta, gamma), sedangkan isoform PLC pada umumnya teraktivasi oleh subunit
G(alpha). Interaksi antara subunit G(beta, gamma) dengan PLCb2 mengaktifkan
aktivitas enzim tersebut. Enzim PLC dapat menghidrolisis fosfatidilinositol
4,5-bisfosfat menghasilkan inositol trisfosfat (IP3) and diasilgliserol.
Salah
satu produk hidrolisis tersebut adalah IP3. IP3 merupakan senyawa larut dalam
air, yang akan berdifusi dari membran plasma menuju sitosol dan akhirnya menuju
retikulum endoplasma (Nelson dan Cox, 2004). Pada permukaan retikulum
endoplasma terdapat rseptor spesifik untuk IP3, yaitu: IP3R. Reseptor IP3R
tersebut merupakan suatu ion channel yang akan terbuka apabila terikat dengan
IP3. Pengikatan tersebut membuka channel ion, sehingga ion Ca2+ yang terdapat
dalam retikulum endoplasma berdifusi menuju sitosol. Konsentrasi ion Ca2+ yang
terdapat di sitosol meningkat drastis dari konsentrasi kurang dari 10-7 M
menjadi sekitar 10-6. Peningkatan kandungan ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal
dalam sel-sel pengecap. Pertama, pembukaan kanal kation selektif pengecapan
(TPRM5) di membran plasma. Kedua, pembukaan gap junction hemichannel.
Peningkatan
kadar Ca2+ intraseluler menyebabkan kanal ion TPRM5 menjadi terbuka. Ion Na+
yang konsentrasi di luar sel lebih tinggi dibanding intraseluler akan berdifusi
masuk melalui kanal ion TPRM5 tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya
depolarisasi tegangan potensial membran sel. Depolarisasi tersebut dan adanya
peningkatan kadar ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terbukanya gap junction
hemichannel. Terbukanya hemichannel tersebut menyebabkan berbagai molekul
seperti transmitter taste bud, ATP dan
molekul-molekul lain mengalami difusi keluar sel.
Aktivasi
TPRM5 dapat ditingkatkan dengan meningkatkan temperatur. Pada temperatur yang
lebih tinggi, meningkatnya aktivitas TPRM5 dapat meningkatkan intensitas rasa
manis yang dapat dikecap oleh lidah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa es krim
yang mengandung kadar gula yang sama dengan teh hangat akan terasa kurang manis
(Ishimaru and Matsunami, 2009).
Begitulah
suatu proses pengecapan rasa berlangsung di dalam tubuh manusia. Proses ini sangat
rumit/kompleks, teratur dan berlangsung dalam sel yang berukuran amat sangat
kecil. Setiap kerja yang dilakukan suatu bagian sel langsung berakibat terhadap
bagian sel yang lain. Bayangkan, apabila satu saja dari sistem pengecapan
tersebut ada yang rusak, tentunya manusia akan hidup di dunia yang serba tawar.
Jadi, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur kepada Sang Khaliq yang sudah
menciptakan proses luar biasa.
4. Jelaskan
hubungan hormon oksitosin dengan sinyal gelombang alpa dan teta yg di keluarkan
otak
Jawaban
:
Gelombang
listrik yang dihasilkan otak bersifat fluktuatif, biasa disebut dengan
brainwave. Dikatakan fluktuatif karena pada satu waktu otak manusia mampu
menghasilkan beberapa jenis gelombang secara bersamaan. Jenis-jenis gelombang
otak yang dihasilkan menunjukkan perbedaan aktivitas atau keadaan seseorang.
·
Gelombang
Alfa
Gelombang
alfa memiliki frekuensi gelombang yang lebih lambat dibandingkan beta, yaitu
8-12 Hz. Pada kondisi alfa berarti seseorang berada pada kondisi santai atau
rileks. Pada kondisi ini pula seseorang bisa lebih dapat merasakan sensasi
dengan lima indera dan apa yang terjadi atau dilihat dalam pikirannya. Kondisi
alfa ini dikenal juga sebagai “gerbang” bawah sadar. Karena ia menjadi
penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Gelombang alfa biasa juga
dihasilkan ketika seseorang bermeditasi ringan.
·
Gelombang
Theta
Gelombang
theta mempunyai frekuensi gelombang sebesar 4-8 Hz. Gelombang ini dihasilkan
oleh pikiran bawah sadar. Gelombang theta muncul ketika seseorang dalam keadaan
tidur ringan, saat terjadi episode tidur REM, atau sangat mengantuk. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa kita bisa saja memunculkan kondisi pada kondisi
theta dengan cara bermeditasi hingga tahap yang sangat dalam. Semua pengalaman
meditatif dapat dirasakan pada kondisi theta, misalnya keheningan, ketenangan,
kedalaman, dan puncak kebahagiaan.
Gelombang theta ini
juga diduga berhubungan dengan mekanisme pelepasan stres dan proses mengingat
kembali. Dalam keadaan ini diibaratkan otak sedang mereplay
semua aktivitas yang dilakukan seharian penuh, menata ulang ingatan sekaligus
menempatkannya ke gudang penyimpanan. Karena itulah dikatakan bahwa tidur
adalah satu langkah penting yang dianjurkan sebagai rangkaian proses mengingat
yang lebih baik.
Kedua
gelombang ini adalah gelombang yang memiliki resonansi paling kuat. Lontaran
gelombang otak Alpha dan Tetha dari pikiran kita lah yg akan menyebar ke luar,
sehingga menggerakkan orang lain melakukan hal yg kita harapkan.
Alfa-Theta, membuat
tenang, bahagia dan kreatif. Kemampuan untuk secara
temporer mengubah kesadaran diri satu frekuensi ke frekuensi yang lain adalah
keterampilan yang sangat penting, karena efeknya akan membantu menyeimbangkan
otak, hati, dan jiwa. Keterampilan itu membuat seseorang menjadi pandai membaca
situasi dan pandai menempatkan diri dalam suasana apapun sehingga seolah-olah
selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat
Oksitosin,
sang hormon cinta, yang disekresikan selama aktivitas seksual, orgasme pria dan
wanita, kelahiran, dan menyusui. Oksitosin menimbulkan perasaan cinta. Seperti
yang dikatakan oleh Michael Odent, “Apapun bentuk cinta itu, oksitosin pasti
terlibat mempengaruhinya.”
Oksitosin
disekresi dalam jumlah besar saat hamil, berfungsi untuk meningkatkan penyerapan nutrisi, mengurangi stres, dan menghemat energi
dengan membuat ibu hamil lebih mudah
mengantuk. Oksitosin juga
menyebabkan rahim berkontraksi berirama. Kadar hormon oksitosin mencapai
puncaknya saat persalinan dengan adanya stimulasi dari reseptor vagina akibat
adanya peregangan saat bayi melewati vagina. Setelah plasenta dilahirkan, kadar
hormon ini menurun secara bertahap.
Seperti
yang telah dijelaskan diatas bahwa gelombang Alpha-theta adalah gelombang otak
yang berkaitan dengan pelepasan stress. Bayi juga mengalami
peningkatan produksi oksitosin selama proses persalinan. Jadi, dalam menit
pertama setelah persalinan, ibu dan bayi
bermandikan hormon cinta.
Produksi oksitosin kemudian dilanjutkan produksinya melalui kontak kulit ke kulit dan kontak mata dengan mata,
serta saat bayi pertama kali menyusu. Oksitosin akan mencegah terjadinya
perdarahan pasca melahirkan dengan dengan memastikan kontraksi rahim yang
baik..
Saat
proses menyusui, oksitosin memediasi let-down reflex dan dilepaskan secara
bergelombang. Selama masa menyusui,
oksitosin terus bertindak untuk menjaga ibu tetap santai dan bergizi baik.
Profesor Kerstin Uvnas Moberg, seorang pakar oksitosin dan peneliti menyebutnya sebagai “… sistem anti-stres yang sangat efisien, yang mencegah banyak penyakit di
kemudian hari.” Dalam studinya, para ibu yang menyusui selama lebih dari
tujuh minggu itu lebih tenang, ketika mereka bayi yang berusia enam bulan,
dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya.
Di
luar perannya dalam hal reproduksi, oksitosin disekresi dalam situasi lain,
misalnya, berbagi makanan. Para peneliti telah meneliti bahwa akibat dari
malfungsi sistem oksitosin, dapat
menyebabkan skizofrenia, autisme, penyakit kardiovaskular dan
ketergantungan obat. Peneliti-peneliti ini menduga bahwa oksitosin dapat memediasi efek antidepresan dari
obat-obatan seperti Prozac.
Jadi
hormon oksitosin adalah hormon yang disebut antistess yang sangat efisien
dimana gelombang otak alpha-theta berhubungan dengan pelepasan stress.Itulah
mengapa hormon oksitosin dapat mempengaruhi dan memiliki hubungan dengan
frekuensi gelombang alpha-theta yang ada dalam otak manusia.
5. Jelaskan
bagaiman sifat basa dapat di hasilkan gugus OH pada sakarida! kaitkan dengan
konsep asam basa
Jawaban
:
Sifat
basa yang dihasilkan gugus OH pada sakrida berkaitan dengan konsep asam basa
yang dikemukan oleh bronsted-Lowry.Basa
menurut teori ini adalah senyawa yang menerima proton/akseptor proton.
Salah
satu contoh disakarida adalah sukrosa yang terdiri dari glukosa dan
fruktosa.Dalam srukturnya glukosa memiliki sifat asam karena kemampuannya untuk
melepaskan proton (H+) pada C pertama.
Sementara
fruktosa pada strukturnya memiliki sifat menarik proton (H+)
Dan
ketika dua monosakirada ini bergabung membentuk disakarida yaitu sukrosa maka
strukturnya akan menjadi seperti gambar dibawah ini:
Berdasarkan
konsep asam dan basa dari bronsted-Lowry sebagaimana yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa basa itu sendiri adalah senyawa yang menerima proton/akseptor
proton (H+) atau dengan kata lain basa adalah senyawa yang dapat
menarik proton kearahnya.Fruktosa ternyata memliki gugus OH yang dapat menarik
H+,sehingga gugus OH ini memilki sifat sebagai basa.Namun tidak
semua gugus OH pada fruktosa bersifat basa.C1 pada fruktosa bersifat basa
karena dia mampu menarik H+ dari glukosa untuk kemudian membentuk H2O.
.png)
.png)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar